Senin, 12 September 2022

Seri Keempat - Dari Mana Rehabilitasi Dimulai?

 

Banyak dari Ummat Islam melihat rumus masuk syurga sebagai sesuatu yang sangat sederhana. Orang bodoh, dan miskin pun punya kemungkinan masuk surga. Anggapan ini menjadi permulaan matinya kreatifitas dan produktifitas ummat. Kekeliruan ini berpangkal pada pemahaman yang membatasi status dirinya hanya sebagai hamba saja, yang tugas dan kewajibannya cukup ditaati menurut kemampuan yang dimilikinya. Lupa akan statusnya sebagai khalifatullah di muka bumi, harus dituntut terus menerus meningkatkan potensi dan kemampuannya di dunia ini.

            Memang sulit kalau dipaksakan sekaligus. Kerja ini memerlukan waktu yang cukup lama, dituntut kesabaran yang tidak tanggung-tanggung. Tantangan terberat jsutru dari kalngan umat Islam sendiri. Kalau kurang hati-hati benturan yang merugikan diri sendiri sulit dihindari.

            Kalau umat bereaksi secara apriori dan menolak ajakan ini, merupakan hal yang wajar. Sebab kondisi yang sudah mapan itu mempunyai unsur keasyikan yang membuat orang cenderung memepertahankannya. Tidak semua gagasan baru akan mendapat sambutan positif, sebelum melihat bukti yang meyakinkan, untuk mereka terima.

            Apalagi memyangkut masalah yang sangat prinsip bagi dirinya, memyangkut persoalan dunia akhirat. Tidak mungkin dapat diselesaikan dalam waktu sekejap. Perlu dikondisikan sedemikian rupa, sehingga pada saat ditawarkan  bertepatan mereka mencari.

            Upaya mengkondisikan inilah yang membutuhkan waktu relative lama, serta cara yang ekstra. Alangkah kagetnya mereka kalau sekonyong-konyong datang tudingan menganggap syahadatnya belum sah, pada saat mereka belum siap mental untuk itu. Bahkan lebih parah bilamana anggapan itu berkonotasi pada pernyataan tidak beriman alias pengkafiran. Kesan ini yang paling mutlak dihindari, harus dijaga jangan sampai ada.

            Namun demikian, sesungguhnya kondisi ini juga cukup menolong. Sebab, sekian lama fakta berbicara bahwa nasib umat Islam dalam jumlah yang sangat besar, bahkan paling besar, tetapi dengan posisi yang tidak menccerminkan kebesaran jumlah tersebut. Bahkan dari hari ke hari perkembangan menunjukkan posisi dan nasib kita makin tidak menguntungkan, jauh lebih buruk dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sejarah menjadi saksi bahwa posisi umat Islam semakin memprihatinkan. Kalau irama ini terus berlanjut besok akan lebih buruk lagi.

            Tentu saja ini cukup mengundang pertanyaan yang lebih serius bagi yang memperhatikan, lebih-lebih bagi yang merasakannya. Sebenarnya kondisi ini sudah cukup menolong ditinjau dari keadaannya yang termasuk kondisi dasar. Kondisi itu bisa dijadikan modal untuk menyamakan perasaan dan persepsi terhadap keadaan yang ada, untuk selanjutnya diajak untuk memperbaikinya.

            Sekarang, dari mana perbaikan itu dimulai. Ini pertanyaan yang penting sebab salah dalam memulai akibatnya memupuskan harapan keberhasilan.

            Memperbaiki kualitas umat Islam, harus dimulai dari perbaikan kualitas syahadatnya. Di sini kuncinya. Inilah yang perlu dikondisikan lebih dahulu.

            Banyak dari umat Islam melihat rumus masuk syurga sebagai sesuatu yang sangat sederhana. Orang bodoh, dan miskin pun punya kemungkinan untuk masuk surga. Anggapan ini menjadi permulaan matinya kreatifitas dan produktifitas umat.

            Kekeliruan ini berpangkal pada pemahaman yang membatasi status dirinya hanya sebagai hamba saja, yang  tugas dan kewajibannya cukup ditaati menurut kemampuan yang dimilikinya. Lupa akan statusnya sebagai Khalifatullah di muka bumi, yang dituntut terus menerus meningkatkan potensi dan kemampuannya di dunia ini.

            Seorang khalifah tidak diperkenankan untuk berpangku tangan seorang diri. Tidak diperkenankan untuk asyik memikirkan dirinya seorang. Tugasnya menyebarkan kasih saying untuk dan bagi segenap umat manusia di dunia ini.

            Dari sinilah setiap umat Islam dituntut untuk terus menerus meningkatkan kualitas dirinya daru satu tingkat ke tingkat berikutnya, supaya secara berangsur kewajibannya sebagai khalifah dapat pula mereka tunaikan lebih banyak dan lebih baik.

            Allah subhanahu wa ta’ala mendesain ajaran Islam untuk hal tersebut. Secara sistematis setiap Muslim sebenarnya sudah diantar begitu rapi untuk mencapai tingkat kemampuan itu. Bekal untuk dapat melaksanakan tugas berat ini sebenarnya sudah lengkap disediakan Allah subhanahu wa ta’ala lewat tuntunan teknis dalam ajaran Islam asal dapat dipatuhi dengan baik, dan diarahkan tajam untuk itu.

            Akan tetapi, lagi-lagi kuncinya terletak pada kekuatan dasarnya, yaitu kualitas dan potensialitas dari syahadatnya. Itu yang terlebih dahulu harus diberestuntaskan.

            Dengan demikian, bukan dan jangan Islam yang dikatakan kaku, kurang sesuai dengan kemajuan zaman, kurang cocok untuk zaman semaju sekarang. Masalahnya bukan di situ , akan tetapi itu semua akibat syahadat yang belum eksis, belum mengakar mantap, belum melahirkan kekuatan dasar.

            Timbul dan muncullah berbagai macam keluhan dan sanggahan terhadap penerapan ajaran Islam, beginilah begitulah, tidak sesuailah dengan zaman, tidak cocoklah dengan situasi, tidak relevan dengan kemajuan, dan banyak lagi keluhan dan anggapan lainnya.

            Padahal sebenarnya semua itu terjadi semata-mata karena syahadatnya belum berhasil menciptakan kondisi mentalnya untuk patuh sepenuhnya pada ketentuan ajaran Islam. Syahadatnya impoten. 

Bersambung.
Diiringi Lantunan Sholawat Jibril A.S untuk sang manusia Mulia, Nabiullah Muhammad SAW

Rabu, 03 Agustus 2022

Seri Ketiga - Bila Syahadat Bukan Penyaring.


Karena Syahadat tidak lagi difungsikan sebagai alat penyaring, tidak berperan sebagai filter yang dapat mencegah lolosnya kaum munafiqun menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin, maka terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Akibat lebih jauh, kaum Muslimin yang seharusnya mampu memperlihatkan kekuatan secara utuh untuk turut memberi warna dalam kehidupan, tidak pernah mampu mewujudkan hingga sekarang.

Karena sekian lama iman tidak pernah dipersoalkan, maka setan dengan mudahnya menyusup masuk. Mereka merayu dan meninabobokan umat Islam agar tetap merasa bahwa kondisi imannya sudah dalam mutu dan kadar yang memadai.

               Akibatnya, tidak banyak orang yang merasa prihatin dengan kondisi imanya, atau bahkan orang-orang yang mempersoalkannya malah dianggap aneh, tidak lumrah. Akhirnya muncul suatu keyakinan bahwa iman akan tetap lestari, tidak ada kemungkinan mengalami erosi, tidak ada kemungkinan iman akan menyusut lagi.

               Timbullah anggapan tidak ada hubungan antara kemalasan beribadah dengan iman. Tidak ada kaitan antara dosa dengan erosi iman. Iman dianggap sebagai sesuatu yang tetap apa adanya. Adapun soal kejahatan dan kemalasan beribadah adalah persoalan watak dan kondisi alam sekitar atau lingkungan.

               Yang penting, bagi mereka, tetap percaya dan mengaku ada Tuhan yang menguasai alam semesta. Itu sudah cukup. Itulah iman. Ucapan syahadat sekedar ucapan formalitas pengukuhan dan pembuktian adanya kepercayaan itu. Syahadat bisa diucapkan kapan saja dan di mana saja, baik disaksikan orang atau tidak. Itu bukan persoalan. Sedang apa yang terjadi kemudian adalah urusan pribadi masing-masing individu, yang tidak perlu dikaitkan dengan syahadatnya. Tidak ada hubungan antara perilaku sehari-hari dengan kadar iman.

               Begitu rata-rata keyakinan dan pendirian umat Islam yang ditemukan di lapangan. Hal ini sering dengan lantang disuarakan oleh golongan menengah ke atas, sebagai wakil bagi mereka yang belum sanggup membahasakan secara langsung. Kecuali sekedar nampak dalam sikap dan tindakan keseharian.

               Belum tentu mereka yang salah sepenuhnya. Ada kemungkinan akibat kurangnya informasi yang mereka terima. Seolah – olah iman umat Islam yang jumlahnya cukup besar ini sudah beres semua, sehingga mulai ada kemalasan untuk membicarakannya. Masih banyak topik lain yang lebih mendesak.

               Kalau masalah syahadat ini sampai terangkat dalam ceramah, itupun tidak lebih hanya sekedar mengisi waktu luang, sekedar variasi materi kuliah untuk menghindari kebosanan. Syahadat bukan merupakan materi inti yang deprogram secara serius dan intens, yang diiringi dengan Langkah-langkah nyata sebagai kontrol pengawasan sekaligus evaluasi terhadap setiap perkembangan.

               Yang jelas, perhatian terhadap nasib iman umat Islam belum memadai. Tidak seimbang dengan kedudukan dan perannya, apalagi kalau diukur dengan fungsi serta pengaruhnya.

               Tenaga dan energi kita terkuras habis mengurus hal-hal yang sesungguhnya hanyalah merupakan akibat dari iman yang belum eksis. semua masalah yang melanda umat sesungguhnya hanya merupakan akibat iman yang tidak aktif, dan efektif.

               Kita terlalu diributkan oleh soal-soal yang justru kadang dibikin oleh musuh sebagai pekerjaan rumah yang bertujuan melenakan kita dari membahas soal besar dan mendasar. Kita hanya reaktif, secara kooperatif maupun non kooperatif. Mudah terpancing menanggapi umpan musuh yang sudah terprogram. Habislah waktu, habislah tenaga untuk sesuatu yang sia-sia. Akibatnya, masalah paling besar dan paling mendasar tidak sempat terangkat ke permukaan.

               Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri dengan bimbingan langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala dengan gamblangnya memperlihatkan kepada kita bagaiaman secara khusus menempatkan upaya pemantapan iman pada skala prioritas selama 13 tahun di Makkah. hal itu terlihat dengan jelas lewat ayat-ayat yang turun selama periode Makkah, sebagai ayat yang secara tajam bermaksud memantapkan iman lebih dahulu, sebelum turun ayat-ayat yang mengatur tata kehidupan. Hal tersebut hendaknya menjadi petunjuk dan pelajaran bagi kita dalam membina umat Islam dewasa ini.

               Sebab bagaimanapun juga, seseorang yang kondisi keimanannya belum dijamin, tidak mungkin dapat melaksanakan dengan baik tugas-tugas dan kewajibannya sebagi Muslim dan mukmin. Semua tugas dan kewajiban baginya akan terasa sangat memberatkan, sementara yang Namanya larangan justru menjadi hobi kegemarannya.

               Kalau sudah seperti itu, lantas apa yang dapat diharapkan untuk kepentingan Islam? Mereka nantinya hanya akan menjadi beban terus menerus. Orang yang demikian akan menjadi sumber persoalan yang tidak henti-hentinya menyita pikiran dan meminta perhatian. Mereka akan menghambat perjalanan dakwah Islam, dan menjadi gangguan yang sangat merugikan.

               Orang-orang yang imannya seperti itu, mungkin sekilas nampak akan dapat mendukung beberapa kegiatan Islam. Mereka kadang meyediakan beberapa fasilitas atau kemudahan. Tetapi kita hendaknya jangan lupa bahwa bantuan yang seperti itu sekali waktu justru bisa jadi bumerang, menjadi jembatan malapetaka dan bencana.

               Berbeda halnya jika bantuan tersebut semacam bantuan dari Abu Thalib, yang semata-mata sekedar membantu. Ia tidak ikut dalam pengambilan keputusan, tidak turut dalam menentukan kebijakan, tidak turut mempengaruhi proses penentuan sikap, tidak punya hak dilayani. Abu Tahlib tidak tampil mengaku sebagai seorang Muslim yang mempunyai risiko hukum dalam perlakuan dan pelayanan.

               Karena syahadat tidak difungsikan sebagai alat penyaringan, tidak berperan sebagai filter yang dapat mencegah lolosnya kaum munafiqun menyusup masuk ke dalam barisan kaum Muslimin, maka terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Akibat lebih jauh, kaum Muslimin yang seharusnya mampu memperlihatkan kekuatannya secara utuh untuk turut memberi warna dalam kehidupan, tidak pernah mampu mewujudkannya hingga sekarang.

               Bermula dari sini, kemudian terjadilah keanehan-keanehan yang sangat membingungkan. Umat Islam yang seharusnya menjadi pendukung terciptanya kondisi yang Islami justru paling getol memusuhi. Mereka tidak merasa punya kewajiban secara moril untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan Islam. Yang demikian terjadi akibat pada awal ke-Islamannya tidak turut tertanam rasa tanggung jawab untuk menjayakan Islam.

               Dengan pelaksanaan syahadat yang seenaknya, selama ini kita selalu dikecewakan oleh kenyataan yang sangat kontras dengan perhitungan. Yang paling pahit kalau kenyataan di lapangan membuktikan justru umat Islam sendiri yang sesungguhnya menjadi lawan utama dari cita-cita menciptakan kondisi hidup yang ditata secara Islam.

               Alangkah hebatnya sesungguhnya kalau benar-benar fungsi syahadat dapat diwujudkan sebagaimana yang diharapkan. Terbayang akan terbinanya satu kekuatan maha raksasa, yang dapat digunakan mengatasi semua persoalan yang dihadapi umat Islam selama ini. Insya Allah.


"Teringat sebuah Ucapan salah satu guru, Karena KAROMAH Tertinggi itu adalah Istiqomah dalam kebaikan, semoga, aamiin"

Dalam Sunyi Sudut Kursi Kantor, ditemani heningnya mentari siang namun menyapa dengan riang lewat teriknya.

Selasa, 05 Juli 2022

Seri Kedua - Syahadat Urusan Pribadi?

 "Syahadat yang benar adalah syahadat yang melahirkan satu bangunan kokoh yang saling menguatkan, topang menopang. Syahadat yang betul adalah syahadat yang menghadirkan satu struktur organisasi yang patuh menerina distribusi tugas dalam satu program yang jelas, yang tidak hanya menghabiskan watunya guna mempertahankan hidup. tapi mampu untuk selalu berkembang."

Bukan maksud menyalahkan umat, bukan pula bertujuan mengecilkan arti mereka, sehingga tulisan ini diangkat. Tetapi hanya sekedar mencoba menggambarkan keaadaan syahadat yang ideal, sebagaimana syahadat para sahabat nabi.

            Dengan cara ini, kita bisa melihat lebih jelas betapa jauh jarak antara keduanya, kemudian kita bisa memperhitungkan panjangnya rute perjalanan yang harus ditempuh dalam upaya mempertemukan realitas yang ada dengan idealitas yang dituju.

            Hal ini sangat penting agar kita tidak terlalu cepat puas dengan kondisi sekarang ini, disamping menghindari keputus asaan bila ternyata nanti usaha ini memerlukan waktu yang cukup lama, serta menuntut pengorbanan yang tidak kecil. Perlu kita sadari, ibarat orang sakit, sesungguhnya kondisi kita cukup parah. Memerlukan proses penyembuhan yang berjangka lama, intensif dan berkontinuitas.

            Betapapun parahnya kondisi kita sekarang, kemungkinan dan peluang perbaikan tetap terbuka. Kesempatan untuk menjadi sehat masih tersedia. Obat yang paling mujarab masih di tangan kita. Asal ada sedikit kejujuran dan jiwa besar untuk mengakui kerendahan mutu iman yang kita miliki, insya Allah usaha perbaikan bisa kita lakukan. Dijamin, asal ada kesungguhan, pemulihan kekuatan umat pelan-pelan akan dapat dirasakan.

            Akan tetapi, ibarat orang sakit yang sudah akut, umat Islam tidak lagi merasakan sakitnya. Betapapun parah kondisi imannya, ia tetap yakin kalau iman dan syahadatnya sudah mendapat jaminan mutu, bahkan kadang merasa bahwa kualitas syahadatnya itu sudah mencapai kualitas standar, menganggap  sudah di atas ukuran biasa dan umum. Inilah persoalan, sekaligus hambatan.

            Sebagian kaum muslimin, karena merasa ukuran imannya sudah di atas standar normal, seolah-olah mendapat dispensasi untuk menganggap sepele beberapa kewajiban, serta larangan, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Tidak merasa risih melakukan pelanggaran. Terkesan seperti mendapat izin istimewa, terkadang sampai pada tingkat bangga dan pamer.

            Inilah kenyataan, umat Islam sudah merasa cukup dengan kondisi imannya yang serba memprihatinkan. Mereka merasa sudah cukup dan menganggap sudah lebih baik daripada tidak beriman sama sekali. Maka, terjadilah beberapa keanehan yang sangat menyedihkan. Sementara hanya beberapa kewajiban yang baru dapat dilaksanakan, mereka sudah berani melanggar aturan Islam, kadang secara terang-terangan, atau malah justru pelanggaran itu dijadikan hobi dan kegemaran.

            Dengan melakukan tindak pelanggaran yang sedemikian hebat, ternyata mereka masih bangga dan dengan penuh keyakinan menyatakan mutu imannya terjamin. Yang lebih menyakitkan, lewat Tindakan dan usahanya, mereka secara tajam merugikan dan menentang Islam, tetapi masih saja yakin kalau dirinya orang beriman yang baik, bisa diadu dan diuji.

            Inilah penyakit, inilah kenyataan. Dapat kita bayangkan apa dan bagaimana jadinya kalau model orang seperti ini menempati jumlah terbesar, paling dominan. Kita telah keliru dalam menarik kesimpulan jumlah, memperhitungkan kekuatan. Bisa ditebak, apa akibatnya!

            ada semacam kesepakatan tak tertulis dan tidak diumumkan, yang menjadi pegangan umat selama ini, kalau mutu dan kadar iman tidak perlu dipersoalkan. Sebab, kata mereka, iman adalah urusan pribadi yang tidak perlu dicampuri oleh orang lain, siapapun juga, sebab ia adalah hak asasi. Akibatnya, orang Islam tidak merasa punya ikatan apa-apa satu sama lain. Masing-masing individu punya kebebasan untuk taat atau tidak. Adalah hak mereka untuk memelihara atau mengabaikan imannya.

            Yang menambah parahnya keadaan adalah tidak adanya orang yang merasa punya wewenang untuk melakukan kontrol pengawasan. Masing-masing orang berhak menganggap dirinya paling beriman. Terjadilah sikap saling mengkafirkan antar pribadi, antar kelompok. Terjadilah permusuhan demi permusuhan yang mengundang jatuhnya korban yang tidak sedikit dan berlangsung tidak sebentar.

            Syahadat demikian tidak melahirkan satu imamah dan jamaah, yang pada akhirnya konsep umat hanya berupa teori yang tidak pernah hadir dalam realita. Apa jadinya bila umat yang jumlahnya sekian banyak tidak dikoordinir, tidak dibimbing dan diarahkan pada satu tujuan. Apa jadinya bila potensi umat yang sekian banyak tidak diatur dan didistribusikan. Umat yang sebenarnya sangat potensial menjadi impotensial. Umat yang sebenarnya merupakan kekuatan justru titik kelemahan, dikarenakan saling bermusuhan, saling menghancurkan.

            Kondisi umat yang sudah menjadi keping-keping kecil, hancur berserakan seperti ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita agar segera menyadari bahwa hal ini sangat berkait dengan syahadat keimanan.

            Syahadat yang benar adalah syahadat yang melahirkan satu bangunan kokoh saling menguatkan, topang menopang. Syahadat yang betul adalah syahadat yang menghadirkan satu struktur organisasi yang patuh menerima distribusi tugas dalam satu program yang jelas, yang tidak hanya menghabiskan waktunya guna mempertahankan hidup, tapi mampu untuk selalu berkembang.

            Akan tetapi, karena syahadat sudah dianggap masalah pribadi, yang tidak boleh dicampuri orang lain, akhirnya tidak ada orang yang saling mengingatkan. Tidak ada saling tegur. Tidak ada yang mengontrol. Pada akhirnya, kondisi seperti ini membuka peluang bagi oknum-oknum tertentu untuk mengaku dirinya sebagai orang yang beriman, meskipun nyata-nyata telah ingkar. Semua orang berhak dan minta diperlakukan sebagaimana orang beriman, walaupun sesungguhnya imannya hanya dalam pengakuan.

            Disinilah kita sering dikecewakan oleh kenyataan yang sangat kontras dengan teori yang dijelaskan dalam al-qur’an. Standar dan beberapa indikasi orang beriman yang dijelaskan al-qur’an tidak Nampak sama sekali dalam realitas kehidupan. Apa yang seharusnya menjadi perilaku orang beriman justru ditinggalkan. Ada semacam keberatan untuk memperlihatkan diri dan identitas orang beriman, tetapi ngotot mengaku beriman, merasa berkeberatan untuk dinyatakan sebagai golongan Kuffar.

            Dapat kita bayangkan apa dan bagaimana kalau model orang-orang seperti ini justru menempati jumlah terbesar, paling dominan. Paling tidak, selama ini kita keliru dalam menarik kesimpulan jumlah, keliru dalam memperhitungkan kekuatan. Bisa ditebak, apa akibatnya bila perhitungan kuantitas dan kualitas berbeda jauh dengan kenyataan.

            Selama ini kita terjebak menghitung setiap pengakuan sebagai jaminan mutu dan jumlah kekuatan. Mereka yang nyata-nyata tidak setuju degan apa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam kehidupan kesehariannya tetap masuk dalam perhitungan. Bahkan mereka sudah pada tingkat memusuhi perilaku yang diwariskan kepada umat Islam masih kita anggap dan perlakukan sebagai orang Islam, yang barang tentu masih juga kita perhitungkan sebagai kekuatan. Padahal, semestinya kita tahu, bahwa kekuatan dan kehebatan Islam terletak pada kepatuhan dan ketaatan mengikuti sepenuhnya apa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.

            Janganlah kita lupa kalau kekuatan dasar umat Islam sesungguhnya terletak pada bantuan dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau bantuan itu tidak ada, semua yang dimiliki oleh umat tidak akan berarti apa-apa, bahkan bisa jadi bumerang. Justru yang dimiliki umat Islam pada gilirannya menjadi sebab utama kehancuran dan kelemahan. Setan dengan mudah melakukan tipu dayanya bilamana Allah subhanahu wa ta’ala tidak melindungi langsung umat Islam.

            Jadi, bukan jumlah yang dipentingkan, malahan hal ini tidak pantas dibanggakan. Yang diperlukan sekarang adalah kualitas, bukan kuantitas. Untuk itu mulai dari syahadat sudah diperlukan jaminan mutunya. Kualitas syahadat yang paling rendah adalah kesediaan diri untuk sepenuhnya mematuhi apa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, tanpa menawar sedikitpun juga apa yang sudah ditetapkan sebagai syariat Islam.

 

Pagi hari Ketika perjuangan semakin terasa tantangannya.

Tanjung Selor dalam cerahnya mentari, di Kantor SD AL MUBARAK dalam kesunyian bunyi dan keramaian ide dan kerja.



Rabu, 08 Juni 2022

Seri Pertama - Potret Syahadat Ummat-



    Mengapa lantunan syahadat yang diucapkan umat tidak mempunyai dampak yang hebat? adakah sekarang umat tidak lagi sekualitas dulu?

    Di masjid-masjid besar seperti Istiqlal di Jakarta, salman di Bandung, Al falah di Surabaya, dan masjid - masjid lainnya setiap Jum'at hampir selalu ada upacara pengislaman. Mereka yang baru masuk Islam tentunya diharuskan melantunkan dua kalimat syahadat. Para hadirin menyaksikan dengan khusyu', sementara pemandunya menuntun lafadz demi lafadz dengan tekun agar tidak menyalahi kaidah tajwid dalam pengucapannya.

    Ratusan, bahkan sudah mencapai ribuan orang yang telah diislamkan. Mereka mengawali keislamannya dengan upacara sakral yang disaksikan oleh puluhan jama'ah. Rata-rata mereka fasih mengucapkan syahadat karena telah mendapatkan latihan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan sebelumnya.

    Ada satu hal yang perlu kita persoalkan, mengapa selama ini belum terdengar riak dan gelombang sebagai akibat dari syahadat mereka. jangankan gelombang, perubahan dalam diri mereka saja rasa-rasanya hampir tidak ada. yang biasanya bercelana pendek, tetap bercelana pendek. bila ia perempuan, ia tetap berbusana kafir, tidak ada perubahan. Bila ia pelajar, ia tetap bercampur laki perempuan.

    Terlalu wajar bila muncul satu pertanyaan. "Mana pengaruh syahadat yang katanya hebat itu?" terlalu wajar bila ada orang curiga kalau-kalau mereka yang masuk Islam itu hanya sekedar main-main, hanya sekedar ngibulin mertua agar anak gadisnya bisa di nikahi, atau kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Kemudian dimana letaj nilai syahadat itu?

    Bukan terletak pada aksentuasinya. Bukan pada kefasihan membacanya. Bukan pada keterampilan mengucapkannya. letak nilai strategis syahadat itu ada pada isi dan materi kandungannya. Bila isi dan kandungan syahadat itu dapat dihayati dengan sungguh-sungguh, pasti berdampak meningkatkan kadar dan mutu keberadaannya.

    Syahadat adalah pernyataan sikap, keyakinan dan pendirian mengenai sesuatu yang sangat prinsip. Ia adalah pengakuan sekaligus penetapan yang sungguh-sungguh disertai kesiapan mental untuk menanggung segala konsekuensinya, bahwa Allah Tuhan satu-satunya.

    Pernyataan ini tidak hanya berakhir sampai disitu. Keyakinan kepada Tuhan bukanlah pernyataan sederhana. Mengakui saja siapa presiden kita, dan menempatkan diri sebagai rakyatnya, sudah membawa konsekuensi yang tidak sedikit, minimal siap membayar pajak kepadanya. Padahal status dan posisi itu sangat terbatas, baik waktu maupun wewenangnya. Kalau pengakuan kepada presiden saja sudah membawa akibat yang tidak sedikit, apalagi pernyataan dan pengakuan kepada Tuhan yang sama sekali tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan wewenang.

    Karenanya, tidak mungkin kalimat itu dapat memberi bobot manakala diucapkan tidak dengan pemahaman, tanpa kesadaran akan segala macam risiko serta akibat yang merupakan tuntutan dan konsekuensi logisnya.

    Jangan heran, jika selama ini, syahadat yang kita temukan di lapangan tidak berhasil memberi bobot yang memadai sebagai wujud peningkatan mutu dan kadar kualitas eksistensi seseorang.

    Kenapa hal ini bisa terjadi? Tidak lain penyebab utamanya adalah kesalahan pemahaman kita dalam memaknai arti dan maksud syahadat yang sering kita ucapkan. Di antara kita ada yang beranggapan bahwa syahadat hanya sekedar ucapan formalitas. Dipahami atau tidak , bukan menjadi soal. yang penting, asal pengucapannya sudah tepat, baik huruf maupun makhrajnya, dianggap sudah sah sebagai Muslim. Terserah nanti menjalakan shalat atau tidak. Tetap maksiat atau menjadi penjahat. Disinilah letak kehampaan dan kehambaran syahadat selama ini.

    Apakah artinya syahadat yang tidak punya isi? Apalah artinya syahadat yang tidak berpotensi? apalah artinya syahadat yang sekedar formalitas, yang mandul tanpa follow up? Apalah artinya syahadat yang tidak melahirkan komitmen pengorbanan dan kesungguhan serta kesiapsiagaan menerima segala resiko sebagai taruhan logisnya? Malahan momen ini merupakan peluang empuk bagi siapa saja untuk melakukan penipuan yang pada gilirannya akan berwujud kemunafikan.

    Bila sudah demikian, wajar manakala bukan kekuatan sebagai hasilnya, malah kelemahan yang datang. Bukan hanya terbatas pada kelemahan yang masih bisa diatasi, tetapi justru kondisi syahadat yang demikian itulah sebenarnya yang menjadi musuh utama keberadaan umat Islam.

    Kenapa demikian? Sebagaimana kita ketahui, kekuatan islam terletak pada kepatuhan ummatnya dalam menjalankan syariat agamanya. Mengucapkan syahadat dengan benar sudah merupakan satu kekuatan, dan kekuatan itu akan terus bertambah seiring dengan pelaksanaan syariat berikutnya. Akan tetapi jika sejak dari syahadat sudah tidak beres, tidak tertancap dengan baik, maka hasilnya adalah kehancuran. Syahadat adalah pondasi. Tidak ada tiang yang bisa tegak dengan utuh, tidak ada perabot yang bisa berfungsi dengan baik, apalagi kalau diharapkan menjadi daya dukung dan kekuatan sebagaimana mestinya, tanpa tegak dan tegarnya fondasi.

    Bila mulai dari syahadatnya sudah meragukan, pasti akan mengundang keragu-raguan selanjutnya, cenderung menawar semua perintah dan larangan, mudah membantah, minimal bila mentaatinya pasti penuh dengan keterpaksaan, santai, tidak Nampak sama sekali keseriusan. Syahadat yang demikian pasti menjadikan seseorang berani menampik apa yang menjadi kewajiban sekaligus melanggar larangan. Persoalannya, kadar syahadatnya memang tidak disiapkan untuk mematuhi perintah sebagai konsekuensi lanjutan.

    Barangkali ada yang beranggapan, bersyahadat hanya sekedar ucapan formalitas keabsahan keislaman seseorang. Hanya sebagai proses awal yang harus dilalui. Bersyahadat ibarat mengisi formulir pendaftaran menjadi anggota sebuah organisasi yang dikenal selama ini. Adapaun perintah dan larangan yang menjadi syariat keseharian, itu persoalan pribadi. Tergantung diri sendiri, tidak perlu dicampuri oleh siapapun juga, sesuai dengan selera dan kesukaannya sendiri. Sebab, katanya, masing-masing kita akan bertanggung jawab sendiri-sendiri dihadapan Allah nanti. Terserah kepada masing-masing pribadi, sebab ini adalah ajaran suka rela. Begitulah irama dan bentuk berfikir mereka, yang sejak syadahatnya sebagai pangkal sudah hampa dan hambar, tidak dipahami secara persis tentang apa yang diucapkannya.

    Mutlak harus ditanamkan dan dicamkan baik-baik bahwa syahadat melahirkan ketentuan-ketentuan yang mengikat. Setelah bersyahadat pasti akan disusul dengan kewajiban-kewajiban yang tidak bisa dielakkan. Syahadat adalah permulaan dari rangkaian tugas yang berlanjut untuk sampai kepada sasaran-sasaran tertentu. Syahadat bukan kewajiban yang lepas dan terpisah berdiri sendiri, tetapi memounyai kaitan dengan sekian banyak kewajiban lain yang saling berkait dari awal hingga ujung. Syahadat bukan sesuatu yang dimulai dari ucapan seperti itu dan berakhir sampai situ. Ia merupakan awal dari sekian jalinan dan rangkaian aneka ragam tugas dan kewajiban yang sudah terprogram secara rapi. Syahadat yang demikian dijamin dapat menyelesaikan sesuatu yang mempunyai nilai serta arti yang sangat besar bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

    Disini, mulai terbayang jawaban pertanyaan yang menggoda sekian lama, kenapa wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan kalimat eksplisit yang tajam memerintahkan orang untuk memulas proses keislamannya dengan mengucapkan kalmat syahadat. Makin mengertilah kita, kenapa wahyi pertama adalah anjuran dan bimbingan serta pola acuan, metode dan system berfikir yang begitu sederhana kerangka dan sistematikanya. Disana Nampak bahwa bukan langsung pengucapannya yang paling menentukan, tetapi yang lebih penting justru proses yang melahirkan pengucapan tersebut.

    Melalui kerangka berfikir yang ditawarkan oleh wahyu pertama ini, diaharapkan akan lahir kesadaran bersyahadat yang diucapkan dengan mantap, penuh keyakinanm yang dijamin tidak akan pernahgoyah ditengah perjalanan walau menghadapi risiko dan tantangan.

    Sikap bersyahadat seperti itulah yang sesungguhnya merupakan kekuatan dasar yang akan menjadi kekuatan konkrit bila ada yang mampu memanfaatkannya dalam bentuk program praktis.

    Disinilah tragisnya. Disamping syahadat yang ada tidak melahirkan peningkatan murti keberadaan umat, mereka yang diserahi amanat sebagai pemimmpin umat tidak berhasil mengatur potensi yang ada dalam program kerja yang menampung semua kekuatan yang tersedia. Akibatnya, umat Islam hanya kellihatan banyak dalam kuantitasm tetapi berhamburan menjadi sesuatu yang kehilangan daya kekuatan nyata. sunggh tragis, kekuatan umat Islam justru lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk menentang Islam sendiri. Pengorbanan dan potensi yang ada pada diri umat Islam tidak memberi dukungan sedikitpun juga pada upaya terwujudnya kehidupan yang Islami.

    Sekali lagi, semuanya bermula dari syahadat yagn tidak berhasil diwujudkan sebagaimana mestinya. Syahadat yang mandul, tidak melahirkan apa-apa. Semua orang tentu bisa dengan mudah menghafal dan melafalkannya. Ada kesempatan yang empuk bagi yang mau menyalahgunakannya. Adalah kesempatan yang di tunggu-tunggu oleh munafiqun modern. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau umat Islam yang mayoritas justru yang seperti itu keadaannya.

    Betapa dan bagaimanapun banyaknya jumlah umat Islam, berapa pintarnya mereka secara individu, bahkan betapapun kaya rayanya para personil manusianya, semuanya itu belum merupakan kekuatan yang dapat dijaminmemberi daya dukung yang menolong pencapaian cita-cita, sebelum syahadat mereka semua eksis sebagaiman mestinya.

    Dengan demikian, kiranya dapat disepakati untuk menjadikan kajian syahadat sebagai upaya paling mendesak disamping program yang mendesak lainnya. Sebab, bila syahadat umat sudah beres, tidak ada yang sulit. Semua masalah yang selama ini dianggap problem, sebagai tantangan akan terasa sangat mudah diselesaikan. Syahadat adalah kuncinya. Disinilah sumber penyakit umat sekian lama, sehingga dari sini juga perbaikan harus dimulai.

    Segala macam upaya harus dilakukan sekuasa kita. Segala macam media harus dimanfaatkan untuk pekerjaan itu. Harga dan martabat umat akan terangkat dengan sendirinya bila syahadat mereka eksis dan beres semua.

    Insya Allah, nantinya, mereka bukan saja disegani, bukan saja diperhitungkan, bukan saja diikutsertakan dalam semua kegiatan strategis, tetapi justru akan tampil sebagai penentu.

 *Ditulis persis dari Buku "Kuliah Syahadat-Membentuk Generasi Siap Menerima Titah Ilahi" oleh Ust Abdullah Said. (Pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah)

Minggu, 15 Mei 2022

4 Aturan kerja Otak (Brain Rules -Jhon Medina)

Memahami cara otak bekerja

Dalam buku BRAIN RULES yang ditulis oleh  seorang Professeor Bernama Jhon Medina yang ahli dibidang neurologi (otak) didapati secara umum ada 4 cara otak kita bekerja, yang semoga dengan mengetahuinya kita dapat memkasimalkan otak kita dengan baik untuk meraih berbagi kesuksesan yang kita impikan.

#Rules No 1

Exercise Does Improve Our Brain.

Yes, ternyata olahraga yang kita lakukan dapat meningkatakan kemampuan otak kita untuk lebih sehat dan maksimal untuk kita manfaatkan meraih kesuksesan kita, karena berdasarkan penlitian sel otak terhadap orang yang rajin berolahraga dan tidak di dapati bahwa sel otak yang rajin berolahraga lebih cerah di banding dengan orang yang jarang atau bahkan tidak berolahraga.

Bagi mereka yang rajin berolahraga, otak secara jangka Panjang memiliki kemampuan untuk menemukan solusi masalah yang lebih Tangguh di bandingkan dengan yang jarang berolahraga.

So, mari berolahraga secara terartur agar otak kita tidak layu sebelum waktunya, dan kesuksesan kitab isa di dapatkan semuda mungkin.


#Rules No 2

Multi Tasking is a Myth (multi Tasking hanyalah Mitos).

Menurut Jhon medina, otak kita bekerja secara sekuensial (ber-urutan) dan tidak pernah bisa maksimal Ketika dipaksa bekerja secara parallel (bersamaan dalam satu waktu menyelesaikan berbagai hal).

Dalam sebuah studi didapati hasil bahwa multi tasking (misal, menulis laporan sambal cek Chatingan medsos di tambah scrol-scrol IG stories) akan menurunkan produktivitas anda secara siginifikan.

Jadi jangan pernah berkeja sambal cek Hp atau cek-cek media sosialmu, Lebih baik lagi bila Ketika bekerja Hp letakkan atau dimatikan Ketika kita sedang konsentrasi membuat / menyelsaikan sebuah proyek.


#Rules No 3

10 Minutes Attention Splan

Temuan selanjutnya tentang otak ialah 10 menit merupakan waktu terbaik otak kita memberi perhatian dan menyerap informasi, setelah itu akan menurun drastic.

Jadi bila kemudian kita mendengar presentasi, ceramah atau meeting, bisa diselingi dengan sebuah kegiatan relaksasi otak agar kemudian bisa lebih fresh untuk Kembali menyerap informasi-informasi penting yang disampaikan. 


#Rules No 4

Classroom and Cubicle are Brain Destroyers

Temuan terahir tentang aturan otak ini ternyata lingkungan yang paling brutal dalam membuat otak kita mandek atau tidak berfungsi maksimal ialah ruang kelas / perkuliahan dan kantor yang berbentuk cubile (kotak-kotak).

Ternyata rauang kelas / kantor yang kemudian di desain untuk jarang bergerak secara katif, tersekat-sekat dan hanya memaksa anda melakukan tugas yan gsifatnya repetitive (mengulang-ulang) sangat berpotensi untuk menumpulkan otak kita.

Oleh karenanya bila ternyata lingkungan kita sudah demikian, bisa di imbangi dengan emlakukan Gerakan-gerakan ringan untuk relaksasi dalam jangka waktu tertentu agar suplai oksigen ketubuh kita dan otak kita tetap lancer dan maskimal.

Demikian semoga bermanfaat ya kawan-kawan.

#samarinda 16/05/2022
#saduran bersumber dari Summary Book oleh Yodhia Antariksa
#Brain Rules - Prof Jhon Medina

Ditemani deru mesin penyedot debu pencucian mobil Yuda jaya.

 

 

Selasa, 12 April 2022

#Seri Ketujuh - 3 Strategi Sukses Profesional

Setelah diseri keenam kita mengetahui 3 prinsip dasar untuk bisa meraih sukses profesional, selanjutnya kita akan ulik bersama 3 Stategi jitu nan aplikatif yang dapat kita lakukan dalam meraih kesuksesan profesional kita.

#Strategi pertama : Tetapkan Bidang Profesi Yang Ingin Kita Tekuni.

Sebelum kita menetapkan bidang profesi yang ingin kita tekuni, ada baiknya 3 poin penting ini kita jadikan pertimbangan.

Pertama, Sesuai Minat anda. 

Disini kita bisa menentukan akan kemana dan ingin jadi ahli di bidang apa? apakah kita benar ingin menjadi top eksekutif di sebuah organisasi, atau ingin menjadi enterpreuner sukses di bidang IT, fashion, atau bahkan yang agak diluar umum misalnya, anda ingin menjadi seorang yang paling banyak mencerahkan orang melalui jalur berbagi kebaikan / berdakwah (Da'i)

Kedua, Relevan dengan Pengalaman dan Latar Pendidikan.

Idealnya yang menjadi minat kita ialah apa yang sesuai dengan latar belakang kita selama ini, karena akan sangat membantu kita menjadi lebih ahli di bidang yang memang sudah kita geluti sekian waktu. 

Atau mungkin bila kemudian kita memutuskan untuk memulai minat baru yang itu memang belum memiliki pengalaman yang cukup, maka pastikan bahwa kita memliki keyakinan yang kuat ke depan apa yang kita tekuni ini mamppu membawa kita ke tangga kesuksesan, walau mungkin butuh waktu lebih lama ketika mencapainya.

Ketiga, Mampu Menjanjikan Potensi Penghasilan Yang Bagus.

Di poin ini, bisa menimbang potensi penghasilan yang menjanjikan melimpah kedepannya.

Jika kita ingin menjadi pekerja independen, atau self employe, pilihan bidang tersebut diantaranya: Trainer bisnis, Konsultan SEO, atau Internet marketer.  atau bila kita ingin berkarir di sebuah organisasi / perusahaan, maka carilah yang menjajikan jenjang karir yang jelas dan sistem reward yang joz.

#Strategi kedua : Rumuskan Tujuan Sukses Profesional

Setelah kita yakin dan memastikan apa yang akan kita tekuni, selanjutnya ialah menentukan tujuan yang ingin kita raih dan rute pencapaiannya. 

Kita sangat sadari bahwa tanpa tujuan yang jelas, maka setiap aktivitas yang kita lakukan akan berjalan apa adanya. sebagaimana sering kita dengar "Yah, biarlah hidup saya ini mengalir apa adanya", iya kalo aliran itu menuju samudra luas - Keren, bila mengalirnya ke septic tank, kan Ambyar.

Ada yang menarik dari sebuah hasil survei terkait mereka yang membiarkan hidupnya ini mengalir tanpa perencanaan. Ditemukan bahwa lebih dari 90% karyawan di Indonesia tidak siap menghadapi masa pensiun atau belum punya gambaran pasti bagaimana cara menghidupi dirinya ketika sudah tidak lagi mendapat gaji karena pensiun.

 Sebaliknya, penelitian yang sama juga dilakukan kepada mereka yang mampu merumuskan tujuan dan perencanaan profesional dalam hidupnya secara jelas dan rapi serta dibarengi dengan action plan yang dipantau secara seksama, memiliki peluang sukses lebih besar dalam hidupnya. (Yodhia Antariksa, 2021).

Inilah alasan mengapa penting bagi kita untuk mampu merumuskan atau setidaknya membayangkan tujuan dan arah kehidupan profesional kita ke depan, dengan segala kesuksesan yang ingin kita capai.

Beberapa contoh membuat tujuan dan merumuskan road map kesuksesan: 

Tujuan:
Dalam lima tahun saya sudah bisa menjadi manajer sebuah lembaga pendidikan / sekolah.

Road Map:
1. Mengikuti pelatihan manajemen Kelas.
2. Menyusun Program Kelas Juara
3. Mampu menjadi Wali kelas Teladan.
dst.

#Strategi ketiga : Visualisasikan Kesuksesan.

Di Poin startegi ketiga ini, kita di ajak untuk bisa membayangkan kesuksesan profesional seperti apa yang kita ingin harapkan, baik membayangkan kesuksesan tersebut dalam hasil akhir ataupun dalam proses perjuangan mencapai hasil akhir tersebut.

Manfaat dari memvisualisasikan setiap mimpi sukses kita ialah membuat saraf otak kita menjadi lebih terlatih dan siap dengan kesuksesan yang akan kita jemput, yang kemudian setelah otak kita siap akan mampu menggerakkan tubuh fisik dan prilaku real kita untuk makin mendekat dengan kesuksesan impian.

Sebaiknya visualisasi kesuksesan ini kita lakukan dalam 2 aspek, yaitu aspek kesuksesan hasil akhir (outcome visualization) dan proses menuju kesuksesan (process visualization).

Bersambung..

Dibangku dalam kantor, Terik matahari di Bulan suci
10 Ramadhan 1443 H- bareng Bocil nonton Upin-ipin.

Rabu, 16 Maret 2022

#Seri Keenam - 3 Prinsip Koentji Sukses Professional -


Alhamdulilah, ditengah berbagai kesibukan akhirnya kelanjutan ini dapat kami tuliskan, semoga para pembaca memaklumi, 😊.
Pada tulisan sebelumnya, telah kami paparkan apa itu kesuksesan Profesional dan apa saja tanda-tandanya yang dapat kita lihat.

Selanjutnya akan kita teruskan dengan informasi tentang apa prinsip dasar yang perlu kita ketahui agar kesukseskan dimensi kedua ini dapat kita raih dalam kehidupan kita yang super ini.

yuks kita simak dengan seksama!!

#Prinsip Pertama : The Power Of Network Effect.
    Sobat sekalian, pada prinsip pertama ini kita dibawa menengok pendapat dari Prof Albert Barabasi, beliau mengatakan "When Your Perfomance can't be measured objectively, Your network drive your Success"

    Yes, pada prinsip pertama dalam kesuksesan Profesional anda, yang perlu kita kuatkan adalah jaringan, baik anda sebagai Independen worker / self employed, atau karyawan - pegawai-, bahkan sebagai seorang wiraswasta kekuatan Jaringan (Network) anda harus selalu di jaga bila perlu ditingkatkan.

    Fakta dilapangan membuktikan bahwa terkadang berbagai halangan dan rintangan serta kesuksesan yang lebih cetar membahana berawal dari baiknya networking yang dibangun oleh perorangan atau pun secara organisasi.

#Prinsip Kedua : The Power Of Grit
    
Prinsip selanjutnya dari kesuksesan profesional ialah GRIT, yups prinsip ini di ambil dari penelitian yang dilakukan oleh seorang Prof bernama Angela Duckworth yang bernama -Groun Breaking Study-.

    Menurut Sang Profesor, Hal yang paling menentukan dari kesuksesan sesorang bukanlah pada seberapa tinggi IQ, Intelegensi dan darimana kita berasal, tapi sejauh mana GRIT (daya Resiliensi dan kegigihan, keuletan dan ketekunan) dalam menghadapi setiap tantangan yang datang menyapa.

    Kita sering dapati orang-orang yang sukses adalah mereka yang kadang memiliki IQ biasa-biasa saja namun kuat dan istiqomah dalam menghadapi berbagai cobaan dalam perjalanan kesuksesan  profesionalnya.

#Prinsip Ketiga : The Power Of Passion

    Prinsip ketiga ini terkadang orang menganggap bahwa bekerja sesuai dengan minat / kecendrungan diri dan biasanya dijalani dengan penuh suka cita. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, namun perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud passion dalam poin ini ialah minat mendalam pada sebuah bidang pekerjaan.

    Dalam temuan saintifik di prinsip ketiga ini, yang dimaksud passion ialah keinginan kuat dan tekad mendalam untuk menggapai kesuksesam dalam bidang yang kita tekuni. meski demikian kecendrungan untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat juga dapat membantu kita bertahan dalam menghadapi tantangan yang kita temuai saat menjalani setiap rencana kesuksesan yang sudah kita tentukan sebelumnya.

    Namun kita juga harus siap bertahan ketika dalam proses mencapai kesuksesan itu kita dapati kejenuhan, kepenatan dan berbagai hal yang tidak mengenakkan kita untuk terus meniti tangga menuju sukses tersebut. karena passion saja tidak bisa berdiri sendiri harus di usahakan dengan berbagai prinsip sebagaimana yang kami tuliskan sebelumnya.

#bersambung

Semoga bermanfaat
#Ditemani celoteh si abang dan ade dalam menyelesaikan target yang tertunda.
Pintu 2 daun terbuka lebar dan matahari melompat masuk siang hari.

Seri Kesepuluh - Pernyataan Menuntut Kenyataan -

Dalam beberapa ayat yang disebut aamanuu, teriring pula kata wa ‘amilush-shaalihat. Kenapa? Karena Islam bukan agama kebatinan yang cukup di...